TUGAS MANDIRI 15
Xenosentrisme: Menyoal Mentalitas “Pemuja Asing” di Era Tanpa Batas
Pendahuluan
Di zaman sekarang, hampir semua hal dari luar negeri bisa kita akses dengan mudah. Lewat media sosial, film, musik, dan belanja online, budaya dan produk asing masuk ke kehidupan sehari-hari tanpa batas. Sebagai mahasiswa, saya merasakan sendiri bagaimana tren dari luar sering kali cepat sekali memengaruhi cara berpakaian, berbicara, bahkan cara berpikir. Dalam kondisi seperti ini, muncul satu fenomena yang menurut saya cukup menarik, yaitu xenosentrisme, atau kecenderungan menganggap hal-hal dari luar negeri lebih baik dibandingkan milik sendiri.
Bagi saya, ini bukan sekadar soal selera, tapi sudah menyentuh cara kita memandang identitas sebagai bangsa. Nasionalisme hari ini tidak lagi hanya soal upacara bendera atau hafal lagu kebangsaan, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai budaya, bahasa, dan produk dari negeri sendiri di tengah arus global. Dari sinilah saya mulai bertanya: apakah kekaguman kita terhadap hal-hal asing ini masih wajar sebagai bentuk adaptasi, atau justru sudah berubah menjadi sikap yang meremehkan potensi bangsa sendiri?
Argumen
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat bagaimana produk luar negeri dianggap lebih “keren” atau lebih “berkelas”. Mulai dari pakaian, gadget, sampai makanan, label luar negeri sering memberi kesan kualitas yang lebih tinggi, meskipun sebenarnya produk lokal juga tidak kalah bagus. Tanpa sadar, banyak dari kita, termasuk saya sendiri, pernah memilih sesuatu hanya karena mereknya terdengar asing, bukan karena kualitasnya benar-benar lebih baik.
Hal yang sama juga terjadi dalam penggunaan bahasa. Di lingkungan pertemanan atau media sosial, mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris sering dianggap lebih modern atau intelektual. Sementara itu, menggunakan bahasa Indonesia secara penuh kadang dianggap biasa saja. Saya tidak melihat ini sebagai kesalahan besar, tapi jika dibiarkan terus, lama-lama bisa membentuk pola pikir bahwa bahasa sendiri kurang “bergengsi”.
Menurut saya, di sinilah xenosentrisme mulai menjadi masalah. Bukan karena kita terbuka terhadap budaya luar, tetapi karena kita mulai menilai diri sendiri dengan standar orang lain. Ketika segala sesuatu dari luar dianggap lebih baik, rasa bangga terhadap budaya dan identitas sendiri bisa perlahan memudar.
Namun, saya juga menyadari bahwa keterbukaan terhadap hal asing tidak selalu berdampak negatif. Justru dari luar kita bisa belajar banyak hal, seperti cara berpikir yang lebih disiplin, inovasi teknologi, atau etos kerja yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menyerap hal-hal positif tersebut tanpa harus merasa bahwa budaya kita sendiri lebih rendah.
Di lapangan, saya melihat bahwa kecenderungan ini juga dipengaruhi oleh media dan industri global. Film, musik, dan tren luar negeri dipromosikan secara besar-besaran, sehingga lebih mudah dikenal dan diikuti. Sementara itu, karya lokal sering kali kurang mendapat sorotan. Akibatnya, banyak anak muda yang lebih hafal budaya populer luar negeri dibandingkan budaya daerahnya sendiri.
Selain soal identitas, dampak sosialnya juga terasa. Produk dan gaya hidup asing sering kali identik dengan harga yang lebih mahal. Ketika itu dijadikan standar “keren” atau “sukses”, bisa muncul kesenjangan antara mereka yang mampu mengikuti tren tersebut dan mereka yang tidak. Menurut saya, ini berbahaya karena bisa menggeser makna kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat.
Solusi dan Adaptasi
Sebagai generasi muda, saya merasa kita tidak perlu memilih antara menjadi “lokal” atau “global”. Kita bisa menjadi keduanya. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mulai lebih menghargai produk dan karya dalam negeri, misalnya dengan mempromosikannya lewat media sosial atau mendukung usaha lokal di sekitar kita. Hal kecil seperti ini bisa membantu membangun kebanggaan terhadap potensi bangsa sendiri.
Di dunia pendidikan, menurut saya penting juga untuk mengaitkan materi tentang nasionalisme dan budaya dengan kehidupan nyata mahasiswa. Bukan hanya lewat teori di kelas, tapi lewat kegiatan seperti proyek kreatif, kewirausahaan berbasis produk lokal, atau kerja sama dengan komunitas budaya. Dengan begitu, rasa bangga terhadap identitas nasional tidak hanya jadi konsep, tapi pengalaman langsung.
Pemerintah pun punya peran besar, terutama dalam memberi ruang dan dukungan bagi pelaku industri kreatif lokal agar bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Jika produk dan budaya lokal dipromosikan dengan cara yang modern dan relevan, saya yakin generasi muda tidak akan ragu untuk ikut bangga menggunakannya.
Menurut saya, kuncinya ada pada sikap selektif. Kita boleh mengagumi dan belajar dari luar, tapi tetap perlu menyaring dan menyesuaikannya dengan nilai dan karakter bangsa sendiri. Dengan begitu, keterbukaan global justru bisa memperkuat, bukan melemahkan, identitas nasional.
Kesimpulan
Bagi saya, xenosentrisme adalah fenomena yang wajar di era global, karena kita hidup di dunia yang saling terhubung. Mengagumi budaya dan produk asing bukanlah hal yang salah. Namun, masalah muncul ketika kekaguman itu berubah menjadi sikap yang meremehkan apa yang kita miliki sendiri.
Nasionalisme di masa sekarang tidak harus kaku atau tertutup. Justru, nasionalisme yang sehat adalah yang mampu berdiri sejajar dengan dunia luar tanpa kehilangan jati diri. Kita bisa tetap terbuka, belajar, dan beradaptasi, sambil tetap bangga terhadap bahasa, budaya, dan karya bangsa sendiri.
Sebagai mahasiswa, saya melihat peran kita bukan hanya sebagai penikmat tren global, tetapi juga sebagai agen yang bisa memperkenalkan dan mengangkat nilai-nilai lokal ke tingkat yang lebih luas. Dengan keseimbangan antara keterbukaan dan kebanggaan terhadap identitas sendiri, saya percaya nasionalisme tidak akan luntur, tetapi justru berkembang menjadi lebih relevan di era tanpa batas ini.
Referensi
- Anderson, Benedict. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso, 2006.
- Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
- Tomlinson, John. Globalization and Culture. Cambridge: Polity Press, 1999.

